3 ; Menyukaimu
Mataku terbelalak, bangun tanpa persiapan. Membuat kepala
pening. Lagi dan lagi aku tidak siap untuk berangkat ke kampus. Tidak jelas.
Lontang lantung bak pengemis yang tak punya arah untuk pulang. Ya setidaknya
aku mempunyai rumah tempatku bermimpi indah. Bermimpi dan berkarya di dunia
yang lain, di dunia wonderland.
Aku masih tak terbiasa dengan dunia perkuliahan padahal aku
sudah berada di semester 4. Hatiku selalu bertanya tanya kenapa aku masih tidak
terlalu nyaman disini why?why?why?.
Tidak ada seseorang yang pas untuk tempatku mengeluh segala sesuatu. Bahkan
untuk menjadi diriku sendiri yang cerewet gaada berhentinya, belajar sambil
main sambil ketawa, nyeleneh, dan lain lain aku tidak bisa. Jadi, aku
memutuskan untuk menyesuaikan diriku ke lingkunganku dengan ikut menjadi
anggota di himpunan jurusan dan ikut dalam suatu kepanitiaan ospek jurusan.
Kebetulan, aku diajak oleh teman yang dulunya satu gedung asrama denganku. Aku
diajak menjadi ketua medis dan dibawahi oleh koor penunjang yaitu Farhan.
Hari demi hari aku jalani dengan tidak memperdulikan
percintaan. Ya meskipun ada beberapa lelaki yang mencoba mendekatiku tapi aku
tidak terlalu excited untuk
membalasnya. Sama sekali. 2 bulan ini aku jalani dengan mencoba berteman dengan
siapapun, menjadi diriku sendiri yang tidak takut oleh seseorang, tertawa
padahal tidak tahu apa yang ditertawakan, dan tidak lupa untuk ngecengin April
yang menyukai seseorang yang baik ke semua orang yang ngebaperin semua orang. I’m totally didn’t like him as crush,
aku hanya ingin berteman dengannya dan tidak mengharapkan dekat lebih dari
teman. Entah dia sadar atau tidak, aku dan April sering memerhatikan dia untuk
menjadikannya bahan cengan, hehe sorry
not sorry Farhan.
Akhirnya hari itu tiba, hari dimana aku bersama
teman-temanku mementaskan tarian padang dalam acara seni fakultasku. Saat kita
sedang menunggu waktu pentas, Farhan
datang ke tempat persiapan kita yang berada di sekretariatan himpunan jurusan.
Ia ingin mengambil suatu barang di tempat yang dia anggap menjadi lokernya.
Padahal bukan. Dengan semangatnya April menghampiri Farhan dan bertanya “Mau
ngapain lu?”, “tolong ambilin plastik putih dong disana” (menunjuk plastik yang
berada jauh darinya). April bergegas mengambil plastik itu dan memberikannya
kepada Farhan. “Thanks ya pril” tambah Farhan. Karena April tidak ingin
pembicaraannya berhenti sampai disana, April kembali membuat bahan obrolan
dengan membawa namaku “eh han, Yara cantik ga? Itu gue yang dandanin loh”, what
aku shock kenapa sih nama aku
dibawa-bawa. Aku yang duduk jauh dari mereka hanya melihat dan mungkin mukaku
berubah menjadi rada aneh. “iya, lu juga cantik pril” jawab Farhan dan langsung
meninggalkan April karena dia dipanggil oleh temannya. “ciaelaaah terbang nih
priiil, lu juga cantik kok prrriiiiil” ledekku ke April. Muka April berubah
menjadi apel merah-merah gitcuuuw.... Saat kita sudah dipanggil untuk
bersiap-siap ke ruangan tempat kita tampil dan menunggu di depan ruangan
tersebut, Farhan terlihat bolak balik tidak tahu arah sepertinya dia kehilangan
temannya seperti Hachi yang kehilangan ibunya. Hehe. Karena April dan gengnya
sedang ingin berfoto tetapi tidak ada yang motoin, salah satu anggota geng
mereka memanggil Farhan dan mengajak dia untuk foto bersama April. Setelah itu,
mereka meminta Farhan untuk memotret mereka. Aku tahu April pasti keringet
dingin sih.... Hahaha ikut seneng deh ngeliat temanku yang satu itu seneng.
“drrrt drrttt” suara getaran hpku terdengar menandakan ada
chat masuk atau sms masuk atau apalah. Saat aku lihat, ternyata chat dari grup
PI-BPH ospek jurusanku mengajak untuk mengadakan tim building(timbul) kayak
mempererat hubungan antar pi-bph gitu deh tapi dibarengi oleh rapat. Memang ada
banyak kendala dalam mengadakan ospek jurusanku kaliini tapi aku tidak akan
menceritakannya karena akan panjang sekali ceritanya bisa-bisa dijadiin novel
beneran. Yeu Ge-eR. Aku memutuskan untuk ikut timbul itu, kebetulan timbulnya
diadakan dirumah Farhan.
Hari-H timbul pun tiba, aku dan PI-BPH yang ikut dibagi
menjadi 2 mobil. Mobil Farhan dan mobil Eza, aku ikut di rombongan mobil Farhan
yang kapasitasnya lumayan besar. Sesampainya dirumah Farhan, kita bersih-bersih
diri dan lanjut ke rapat yang super duper hiper membosankan. Pukul 11 malam,
otak kita sudah tidak bisa menerima pendapat dan berfikir jadi kita putuskan
untuk menghentikan rapat. Karena kita tidak bisa tidur, kita memutuskan untuk
bermain truth or dare. Ada pertanyaan
yang mereka tanyakan padaku tapi ada satu pertanyaan yang membuatku sedikit
bertanya dalam hati kenapa Farhan tiba-tiba bertanya itu kepadaku. “Yar, suka
sama gue ga?” tanya Farhan kepadaku. Belum sempat aku menjawab, Eza menyamber
dengan pertanyaan yang sama. Tanpa basa-basi aku menjawab “iya gue suka kok
sama lo han, za”. Saat itu aku tidak terlalu memikirkan pertanyaan itu, tapi
setelah aku pulang dari acara timbul itu aku jadi kepikiran. Kesal.
2 bulan berlalu dan mahasiswa baru yang masuk melewati jalur
undangan telah diumumkan. Aku dan Farhan sudah menjadi dekat layaknya teman
dekat. Aku juga menjadi dekat dengan Maulana yang menjadi ketua HPD dan Ica
yang menjadi ketua kesekretariatan. Tentu dengan Anti aku juga dekat, tapi dia
terlalu banyak belajar dan sibuk di organisasi universitas. Pada hari-H
pendaftaran ulang mahasiswa baru yang melewati jalur undangan, aku dan PI-BPH
mengisi di stand jurusan untuk
menerangkan ospek jurusanku akan seperti apa dan lain sebagainya. Karena kita
sudah datang dari pukul 8, rasanya capek sekali apalagi aku juga sedang tidak
enak badan. Kebiasaanku kalau batuk yang tak bisa berhenti karena aku juga
mempunyai ashma jadi saat batuk
tubuhku terkadang sampai lemas. Saat aku tidak kuasa untuk menahan batukku, aku
meminta tolong Farhan untuk masuk ke mobilnya dan ngadem disana karena diluar
terlalu panas dan bengekku kambuh. Farhan duduk di kursi supir dan aku duduk
tepat di kursi belakangnya. “kok lu duduk dibelakang deh yar, sini duduk
samping gue”,”duh, gakuat gue males pindahnya ehehe” tambahku. Farhan yang
terlihat seperti mengkhawatirkanku melihatku menghadap kebelakang dengan tatapan
yang khawatir seperti ayah yang sedang khawatir terhadap anaknya yang sedang
sakit. “lu mau gue beliin obat yar?” Tanyanya, “gausah, bentar lagi juga sembuh
maaf ya ngerepotin” jawabku. “apaandeh ga sama sekali lagi, cepet sembuh ya
yar”, dan beberapa topik kita bicarakan berdua dengan tidak berhadapan,
sesekali Farhan menatapku dengan menghadap kebelakang. Saat aku sudah
mendingan, aku dan Farhan memutuskan untuk keluar dari mobil.
Beberapa hari kemudian, setelah rapat PI-BPH selesai, aku
dan beberapa temanku ke kantin fakultasku untuk istirahat sebentar sebelum
pulang. Aku berencana untuk pulang bersama temanku dari jurusan yang berbeda
dan janjian pukul 8 malam untuk pulang bersama. Jam sudah menunjukkan pukul 6,
salah satu temanku Rani izin untuk sholat. Karena saat itu aku sedang
berhalangan, aku memutuskan untuk tetap di kantin Fakultas bersama dengan 2
orang PI-BPH yang tersisa yaitu Farhan dan Ami. Saat kita tidak ada obrolan
sama sekali, Farhan membuka obrolan “Yar, lagi deket sama siapa?” aku yang
sedang bermain telepon genggam kaget mendengar pertanyaan itu. “ha? Kenapa
emang? Kok nanya gitu? Ga kok gue lagi ga deket sama siapa-siapa” akhirnya aku
memutuskan untuk menjawab pertanyaan yang membuatku rada shock itu, “terus lagi suka sama siapa?” Tanyanya lagi “kok nanya
ke gue doang, ke Ami dooong”, “kalo Ami mah gue udah tau, lu suka sama gue kan
mi?”, Ami yang sedang menjawab chat dari handphonenya menjawab dengan
ketidaksadaran yang terlalu sadar “iyalah gue sukanya sama lo han, pasti hahah”,
“tuhkan bener, sekarang lu suka sama siapa yar?” saat yang bersamaan Rani
datang dan mengajak kita untuk pulang. “coba tanya sama Rani dia suka sama
siapa”, “Ran lu suka sama siapa?” tanya farhan “gue suka sama lo lah han sama
siapa lagi” sambil membentuk jarinya menyerupai bentuk hati. “ya gue juga sama
lo deh han yuhuuu” sambil tertawa kecil karena aku tidak tahu ingin menjawab
apa. Lalu Rani memaksa kita untuk pulang karena sudah lumayan gelap dan Farhan
menawarkan untuk memberikan tumpangan ke
stasiun. Karena aku sudah janjian dengan temanku untuk pulang bersama, aku bingung
karena akan sendirian tapi ternyata tidak, Farhan mengajakku untuk ikut
mengantar Ami dan Rani ke stasiun.
Setelah kita mengantar mereka berdua ke stasiun, kita
memutuskan untuk kembali ke fakultas. “Yar, gue mau nge cas dulu dimobil ya”,
“okedeh gue temenin” balasku. Di mobil inilah aku dan Farhan menjadi lebih
dekat, membicarakan keluarga, curhat, dan lain-lain. Dan untuk pertama kalinya,
aku senyaman ini ngobrol dengan lelaki yang baru aku kenal beberapa minggu. Aku
tidak ragu untuk membicarakan isi hatiku dan menjadi the real me. Tanpa kita sadari, jam sudah menunjukkan pukul 8 dan
temanku sudah menanyakan aku dimana lewat aplikasi dari korea itu. Dan pada saat itu, aku berfikir dari tatapan
Farhan ke aku, perilaku dia terhadapku akhir-akhir ini, seperti sedang
mempunyai rasa yang lebih terhadapku. Dan pada saat itu juga, aku menjadi
memikirkan Farhan terus menerus. Apakah ini yang dinamakan menyukai seseorang?
(Juni, 2016)











